Solusi Buat Anak-Orang Dewasa yang Suka Gigit Kuku Saat Bosan dan Cemas

Gaya Hidup  
Kebiasaan menggigit kuku dapat dihilangkan dengan berbagai cara (Ilustrasi). (Boldsky)
Kebiasaan menggigit kuku dapat dihilangkan dengan berbagai cara (Ilustrasi). (Boldsky)

MAGENTA -- Kebiasaan menggigit kuku tak saja ditemukan pada usia kanak-kanak. Orang dewasa pun ada yang melakukannya.

Meski sepintas terkesan iseng saja, menggigit kuku ternyata tercantum dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5 ) dari American Psychiatric Association (APA) sebagai "perilaku kompulsif dan berulang-ulang". Kebiasaan itu dikenal juga dengan istilah onychophagia.

Menurut APA, menggigit kuku masuk dalam gangguan mental. Penderitanya mengalami gangguan obsesif-kompulsif dengan adanya "pikiran, ide, atau sensasi (obsesi) yang tidak diinginkan yang membuat mereka terdorong untuk melakukan sesuatu secara berulang (kompulsi)". Apa yang menyebabkan orang ingin menggigit kuku?

Scroll untuk membaca

Scroll untuk membaca

"Menggigit kuku sering dikaitkan dengan kecemasan, tindakan itu dilaporkan mengurangi stres, ketegangan, atau kebosanan," kata dr Aishwarya Vichare, ahli gizi dari Bhatia Hospital Mumbai, dikutip dari laman Express.co.uk, Ahad (20/3/2022).

Menurut dr Vichare, berbagai faktor dapat berperan dalam membentuk kebiasaan itu, mulai dari genetik hingga kondisi kejiwaan. Dr Vichare menyebut, orang yang terbiasa menggigit kuku sering melaporkan bahwa mereka melakukannya ketika mereka merasa gugup, bosan, kesepian, atau bahkan lapar.

Kebiasaan menggigit kuku dapat menyebabkan komplikasi sosial dan psikologis. Pelakunya bisa kena ejek, mengalami tekanan emosional, dan gangguan sosial.

"Komplikasi fisik seperti kuku yang cacat, infeksi pada kuku dan jaringan lunak di sekitarnya juga bisa terjadi," kata Vichare.

Kena penyakit

Kebiasaan mengigit kuku juga punya konsekuensi medis, misalnya meningkatkan risiko terkena infeksi parasit. Infeksi perut pun dapat terjadi akibat menelan partikel kuku dan kotoran.

"Kebiasaan menggigit kuku juga bisa mendatangkan rasa nyeri pada sendi temporomandibular (TMJ) atau sendi rahang, cedera pada gusi, paronychia, cedera gingiva yang disebabkan oleh diri sendiri, infeksi bakteri sekunder juga terkait dengan menggigit kuku," jelas Vichare.

Dr Rinky Kapoor selaku konsultan dermatologi menjelaskan kuku yang rusak akibat sering digigiti dapat menjadi tempat berkembangbiaknya bakteri, jamur, dan segala jenis virus yang dapat menyebabkan infeksi pada tubuh bahkan kulit. Kebiasaan tersebut juga merusak kuku, kutikula, dan kulit di sekitarnya,

Dr Kapoor menjelaskan, menggigit kuku secara kronis dapat menyebabkan banyak masalah. Kuku bisa tumbuh ke dalam, pendarahan di sekitar kuku, pembengkakan dan nyeri di sekitar area kutikula, penebalan kuku dan kulit di sekitarnya, tidak ada pertumbuhan kuku, dan kuku menjadi terpisah dari kulit.

“Ini juga merusak gigi, gusi, dan menyebabkan kerusakan jaringan di mulut,” tambah Dr Kapoor yang merupakan dokter kulit kosmetik serta ahli bedah kulit dari The Esthetic Clinics.

Apa yang bisa dilakukan?

Penderita dapat mencoba menggunakan pelindung mulut, mengecat kuku dengan cat kuku pahit, atau menjaga kuku tetap pendek untuk mengilangkan kebiasaannya itu. Dr Kapoor juga merekomendasikan agar penderita menggunakan obat tradisional mengoleskan minyak pahit pada kuku.

Selain itu, penderita juga dapat mencoba metode berikut:

* Jaga agar kuku tetap pendek dan terawat agar godaan mengigiti kuku jadi berkurang.

* Coba kenakan sarung tangan di malam hari atau saat Anda sendirian agar tidak menggigit kuku.

* Kenali pemicunya.

* Daripada mengigiti kuku, coba kunyah permen karet.

“Ada banyak perawatan yang tersedia untuk onikofagia dan untuk solusi permanen yang terbaik adalah berkonsultasi dengan dokter,” kata dr Kapoor.

Jadi yang pertama untuk berkomentar

Kontak Info

Jl. Warung Buncit Raya No 37 Jakarta Selatan 12510 ext

Phone: 021 780 3747

marketing@republika.co.id (Marketing)

× Image